Pagelaran Wayang Kulit Pada Banyuwangi Festival

APA?
Sebuah atraksi budaya yang menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat Banyuwangi dalam rangkaian Banyuwangi Festival.

KENAPA?
Karena pemerintah ingin memberikan alternatif hiburan diantara berbagai even yang digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Selain menghibur, Pagelaran wayang mampu menyebarkan nilai-nilai kebijakan dan keluhuran masa lalu yang sering relevan dengan masa kini.
Dipilihnya Dalang KI Enthus Susmono karena ia merupakan salah satu dalang kondang dan terbaik yang dimiliki negeri ini. Pikiran dan darah segarnya mampu menjawab tantangan dan tuntutan yang disodorkan oleh dunianya, yaitu jagat pewayangan. Gaya sabetannya yang khas, kombinasi sabet wayang golek dan wayang kulit membuat pertunjukannya berbeda dengan dalang-dalang lainnya.
Didukung eksplorasi pengelolaan ruang artisitik kelir menjadikan lakon-lakon yang ia bawakan bak pertunjukan opera wayang yang komunikatif, spektakuler, aktual, dan menghibur.

DETAIL EVENT
Event : PAGELARAN WAYANG KULIT
Dalang : Ki Enthus Susmono
Hari/tgl : Jumat, 22 November 2012
Lokasi : Alun-alun Kecamatan Genteng

LAKON : Pendowo Syukur
(Ki Enthus akan membawa penonton Banyuwangi menjelajahi kejayaan
masa lalu dalam balutan fragmen heroik yang penuh nilai)

KISAH PANDAWA SYUKUR
Alkisah, setelah Pandawa berhasil membuka hutan Wanamarta dan berhasil mendirikan negara Amarta atau Indraprastha. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan mereka menyelenggarakan sesaji Raja Suya. Yaitu suatu selamatan yang harus dihadiri 100 raja.
Sementara itu tempat lain yakni Kerajaan Giribaja, dengan Prabu Jarasanda juga berencana mengadakan sesaji yakni Sesaji Kalalodra. Sesaji ini kebalikan dari Sesaji Raja Suya yakni mensyaratkan 100 raja untuk dikorbankan sebagai tumbal. Negara Giribaja telah berhasil mengumpulkan 97 raja yang sudah dipenjarakan, sehingga kurang tiga raja. Untuk melengkapinya, Supala dan balatentara Kerajaan Giribaja diutus oleh Jasaranda untuk menaklukkan Puntadewa raja Amarta, Kresna raja Dwarawati, dan Baladewa raja Madura. Mereka ialah tiga raja yang belum berhasil ditaklukkan.
Para Pandawa telah memutuskan, bahwa mereka akan membebaskan raja-raja yang menjadi tawanan Prabu Jarasanda.. Maka berangkatlah Prabu Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa disertai Prabu Kresna.Untuk membebaskan para raja yang ditawan, Kresna, Bima, dan Arjuna dari Pandawa menyamar sebagai brahmana dan berhasil menyusup ke Negara Giribraja dan menantang Prabu Jasaranda. Dan Pertempuran-pun terjadi. Namun Prabu Jarasanda susah dikalahkan. Berkali kali gada Rujakpolo menghantam kepala Prabu Jarasanda, tetapi bagaikan tak dirasa. Werkudara mundur mendatangi Kresna. Kresna memberi tahu bahwa matinya Prabu Jarasanda harus disigar/dibelah kembali. Werkudara kembali perkelahianpun terjadi, Werkudara segera menangkap kedua kaki Jarasanda, dan menarik kaki kiri kekiri dan kaki kanan kekanan sehengga tubuh Jarasanda terbelah seperti waktu kelahirannya, dan tewaslah ia. Dan raja-raja yang ditawan dapat dibebaskan. Di akhir cerita, dengan sukarela ke-97 raja bersama dengan tiga raja bergabung untuk mendukung terlaksananya Sesaji Raja Suya.

Sumber:http://www.banyuwangikab.go.id/

0 komentar:

Posting Komentar