PONOROGO ITU . . .
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
Ponorogo yang merupakan sebuah kabupaten kecil di pulau
padat penduduk, Pulau Jawa, dimana berbagai kalangan masyarakat berpadu di
dalamnya. Mungkin setiap orang di Indonesia ketika mendengar kata “ponorogo”, akan
terlintas di benaknya tentang reog. Sebuah seni tari dengan sajian utama barong
raksasa terbuat dari dadak merak yang diangkat menggunakan gigi.
Memang, kata “reog” hampir tidak bisa dipisahkan dengan kata
“ponorogo”. Setiap Reog pasti dinisbatkan dengan Ponorogo. Walaupun Reog
tersebut merupakan kelompok tari dari daerah lain. Karena, Ponorogo adalah asal
mula seni tari ini.
Begitu juga dengan kata “Ponorogo” yang identik dengan “Reog”.
Ketika saya ditanya, “dari mana mas?” “dari
Ponorogo”, “owh yang ada reognya ya?” atau sekedar bergumam “owh kota reog”, bahkan
tidak jarang jika sudah akrab akan berkata, “pantas kayak reog” sambil cengengesan.
Yang pasti tidak jauh dengan kata-kata itu. Memang, Ponorogo sudah terlanjur
populer dengan reognya, tetapi jika menelusuri lebih jauh kabupaten yang satu
ini, kita akan mengetahui, Ponorogo bukan “hanya” reog.
Ponorogo, sebenarnya bukan kota dengan kemajemukan tinggi baik dari segi sosial, budaya, ras, maupun agama. Rata-rata penghasilan masyarakat Ponorogo seperti umumnya masyarakat desa yaitu dari hasil bercocok tanam. Karena 99 %
masyarakat Ponorogo adalah orang jawa, tak ayal budaya Jawa masih sangat
melekat di masyarakat. Juga dari segi agama, 99 % KTP orang Ponorogo tertulis
beragama Islam.
Hal ini
selaras dengan banyak dan besarnya pendidikan-pendidikan berbasis pesantren.
Sebut saja, Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Al-Islam Joresan
dan Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Tiga pondok besar yang berjajar jika
dilihat dari segi geografisnya terletak di tengah-tengah wilayah Ponorogo. Jika
di kota (wilayah utara) ada Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Pondok Pesantren
Al-Iman Babadan, jika di selatan ada Pondok Modern Ar Risalah Slahung. Begitu
juga dengan pendidikan-pendidikan tingginya. Dari Universitas Muhamadiyah
(UNMUH) Ponorogo, Universitas Darussalam (UNIDA), IAIN Ponorogo dan Juga
Institut Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Secara garis besar, bisa ditarik
kesimpulan bahwa Ponorogo adalah kabupaten yang islami dan berpendidikan.
Ponorogo,
-selain reognya- masih ada banyak hal
lain yang perlu diketahui. Salah satu diantaranya yaitu tentang tata kotanya
yang khas. Sebagai kota yang didirikan oleh salah satu punggawa kerajaan
Majapahit lebih dari lima abad yang lalu yaitu Bathoro Katong, tata kota Ponorogo
menggunakan sistem tata letak kota orang jawa dulu yang dikenal dengan sistem
mocopat. Aloon-aloon kota berada di tengah-tengah, disini biasa menjadi tempat
perhelatan acara-acar besar kabupaten atau sekedartempat nongkrong anak muda, di
utaranya sebagai pusat pemerintahan, di sebelah barat sebagai pusat
peribadahan, sebelah selatan adalah perbelanjaan dan di sebelah timur adalah
kebudayaan.
Sebagai
kabupaten yang syarat akan budaya dan terletak tidak jauh dari pusat
pemerintahan kerajaan Mataram, tak ayal, tradisinyapun tak jauh berbeda.
Seperti, peringatan tahun baru jawa. Di Ponorogo biasanya peringatan tahun baru
jawa diperingati dengan diadakannya event-event yang sudah ada sejak zaman
dahulu, diantaranya, Festival Reog Nasional, sebuah festival berupa perlombaan
kelompok-kelompok seni reog yang mewakili daerahnya dari seluruh nusantara,
Grebeg Suro, yaitu arak-arakan pusaka dari kota lama ke pendodpo kabupaten dan
Larung Risalah Doa, yaitu melarungkan tumpeng ke Telaga Ngebel diiringi dengan
doa.
Itulah
sebagian kecil dari Ponorogo yang jarang diangkat. Ponorogo itu, Indah,
Ponorogo itu, Awesome, Ponorogo itu, kota tercinta . . . .
Kawah Ijen Yang Tetap Mempesona Dalam Keadaan Apapun Juga
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
Kawah Ijen atau Ijen Crater merupakan salah satu destinasi wisata unggulan kabupaten Banyuwangi. Kawah Ijen juga merupakan destinasi wisata favorit dan wajib dikunjungi bagi para wisatawan asing ataupun lokal. umumnya mereka ingin melihat kecantikan hijaunya air danau kawah yang luas terpadu dengan kokohnya kaldera yang mengelilingi danau.
Tidak hanya itu saja, anda juga bisa melihat indahnya blue fire pada malam hari. Blue fire adalah api biru yang keluar secara alami dari belerangnya. Konon di dunia hanya ada dua blue fire, salah satunya adalah di Kawah Ijen ini .Tentu saja untuk melihat blue fire memerlukan perjuangan dan timing yang tepat. mendaki pada tengah malam atau jam satu-nan. Tetapi perjuangan tersebut akan terbayar lunas saat anda dapat melihat blue fire dan tentu saja sun rise ketika fajar menyingsing dari puncak gunung ijen.
Kawah Ijen pun juga akan terlihat sangat indah walaupun suasana berkabut. Dingin yang menusk tulang, pemandangan sekeliling jalan menuju kawah yang hijau, Pohon cemara dan rerumputan yang berebut meanjakan mata, serta gunung sebelah bak lapangan golf atau bukit teletubbies membuat suasana seperti di Eropa.
Pantai Parang kursi, Surga Lain Banyuwangi di Balik Rerimbunan Pohon
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
9
komentar
Pantai parang kursi atau disebut juga karang kursi merupakan salah satu pantai indah berpasir putih yang masih sangat jarang terjamah oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Sama dengan pantai Wedi Ireng yang masih sangat perawan yang bahkan lebih perawan dari pantai teluk hijau atau green bay. Mungkin banyak para traveller yang belum pernah mendengar nama pantai ini. Bahkan di google pun tidak terlalu banyak informasi tetang Pantai Parang Kursi, karena jelas kalah tenar dari pantai semacam Pulau Merah, Sukamade, Teluk Hijau ataupun Plengkung. Tapi soal keindahannya, tidak perlu diragukan lagi. Pantai dengan air yang sangat jernih, pemandangan hijau disekitar bibir pantai, karang-karang yang tersusun rapi, semuanya terpadu menjadi surga lain banyuwangi yang tersembunyi di balik rerimbunan pohon.
Pantai Parang Kursi terletak di Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi, lebih tepatnya berada diantara Pantai Lampon dan Pantai Pulau Merah. Akses jalan dari arah Jember Jika memakai kendaraan umum atau bus ambil arah Banyuwangi berhenti di terminal Jajag, dari terminal Jajag bisa memakai bus damri atau minto ke arah Pesanggaran atau Sarongan, dari perempatan Pesanggaran ke arah selatan ke pantai Lampon, tepat di ujung Pantai Lampon sebelah barat (InsyaAllah, karena kurang tau arah, hehe) terdapat penitipan sepeda motor dan juga perahu untuk menyeberang sungai, dari sana bisa Jalan Kaki kurang lebih 1 KM mengikuti petunjuk.
TRIP TO PARANGKURSI BEACH
Hanya berawal dari candaan setelah bangun tidur di asrama untuk menghilangkan kepenatan dari keseharian, kami berencana travelling ke Pantai Parangkursi yang tak jauh dari tempat kami (Bangorejo). Dipilihnya pantai ini karena mengingat kami sendiri belum pernah kesana bahkan baru dengar dari teman-teman Komunitas Pecinta Pariwisata Banyuwangi, menimbang Pantai ini tergolong pantai paling dekat dibanding yang lain, memutuskan berangkat ke pantai setelah sarapan pagi.
Singkat cerita tibalah kami di Pantai Lampon, menyeberangi sungai dan melewati bakau-bakau yang menghalang-halangi deburan ombak sampai daratan. Saya pribadi hanya berpikir -dengan sedikit ragu-, benarkah Pantai Parangkursi adalah pantai yang indah yang dapat membayar semua lelah perjalanan? Karena banyaknya pantai di Banyuwangi sehingga -agak- merasa bosan juga dengan pantai.
| Menyeberangi sungai dengan kapal |
| Menyusuri -hutan- bakau |
Setelah berjalan agak jauh, kami melewati hutan-hutan, semak belukar dan rerimbunan pohon yang masih sangat alami. nyamuk yang berkeliaran, panas yang lumayan menyengat tak menjadikan halangan untuk tetap lanjut. Mungkin untuk para petualang dan pecinta alam, jalur menuju pantai parang kursi bukanlah apa-apa, malah itulah yang mereka cari, tapi untuk anak-anak rumahan, kami sarankan untuk menahan segala keluh kesah, karena ada secuil surga yang diturunkan di bumi menanti.
| Menyusuri rimbunnya hutan |
| 600 Meter lagi, masih setengah, semangat |
| Melanjutkan perjalanan |
| Tinggal 400 Meter lagi, jangan menyerah! |
| Secuil surga sudah di depan mata |
And Finally, setelah menempuh perjalanan ke Lampon, tanya-tanya orang, nyeberang sungai, menyusuri hutan bakau, digigit nyamuk di rerimbunan hutan, butiran keringat yang jatuh, and this is Parangkursi Beach
Penggambaran tari Jathil dalam tari Reyog Ponorogo
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam
seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan
prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan
oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling
berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda
ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari.
Jathilan ini pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus,
berparas ganteng atau mirip dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun
lebih cenderung feminin. Keberadaan jathil dalam kesenian reyog tidak lepas dari cerita tentang
Klono Sewandono yang mencoba memenuhi salah satu persyaratan Dewi
Songgolangit yang meminta 144 prajurit berkuda. Sejak tahun 1980-an ketika tim kesenian Reog
Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk pembukaan PRJ (Pekan Raya
Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari putri dengan alasan
lebih feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog
Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini didukung
oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
Dulu tarian jathil tidak ada pakem, para penari hanya berjoged bebas
sesuai dengan gamelan yang mengiringinya. Jathil sekedar menjadi sebuah
pelengkap dan pemanis pertunjukkan reyog semata. Sekarang dalam
pertunjukkan reyog di panggung, jathil dan tari jathil sudah menjadi
sebuah pokok didalamnya, yang semakin memperkaya khasanah seni dan
budaya Reyog Ponorogo.
Kesenian Reyog, khususnya tarian Jathil sekarang sudah banyak
dikembangkan disekolah dan universitas. Para pelajar putri penari
jathil, mengaku senang dan bangga dengan penggambaran karakter jathil
sebagai prajurit berkuda yang gagah berani. Peran jathil sebagai
prajurit dalam pertunjukkan reyog, dirasa heroik dan sesuai dengan
karakter mereka sebagai anak muda. Lepas dari sejarah masa lalu, versi
ataupun segala identitas miring yang melekat, jathil dan tarian jathil
sangat layak menjadi perhatian dan mendapatkan penghargaan sebagai seni
budaya bangsa yang adiluhung.
Source: wikipedia, kotareog.com
Bujang Ganong (Ganongan) atau Pujangga Anom
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
3
komentar
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang energik dalam Seni Reyog Ponorogo. Sosok yang kocak sekaligus mempunyai keahlian lebih dalam seni bela diri. Sehingga dalam setiap pertunjukan Reyog Ponorogo,
penampilannya selalu ditungu-tungu oleh penonton khususnya di kalangan
anak-anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang patih muda yang
cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
Dari salah satu versi cerita, Bujangganong adalah adik seperguruan
dari Klonosewandono yang kemudian mereka berdua bertemu kembali dan
bersatu, mendirikan kerajaan Bantarangin. Klonosewandono sebagai raja
dan Bujangganong sebagai Patihnya. Dalam dramaturgi seni pertunjukkan
reyog, Bujangganong lah yang dipercaya sebagai utusan dan duta Prabu
Klonosewandono untuk melamar Dewi Songgolangit ke Kediri.
Secara fisik Bujang Ganong digambarkan bertubuh kecil, pendek dan
berwajah buruk, berhidung besar, mata bulat besar melotot, bergigi
tonggos dan berambut panjang gimbal . Bujang Ganong dalam seni reyog
obyog masa lalu tak banyak memainkan peran. Bujangganong hanya menjadi
pelengkap dan sebagai sosok jenaka penghibur penonton, untuk mencairkan
suasana. Bertingkah kocak sekehendak hati diikuti gamelan, menggoda
barongan reyog, menggoda jathil dan juga berinteraksi menggoda penonton.
Belum banyak tarian dan akrobatik-akrobatik Bujang Ganong yang
ditampilkan waktu itu.
Baru kemudian mulai tahun 1980-an tarian Bujang Ganong dikembangkan
dan ditambahkan akrobatik-akrobatik, hingga sampai ke panggung festival
dan akhirnya kita mengenal tari Bujangganong seperti sekarang ini.
Tokoh-tokoh penari Bujangganong waktu itu yang terkenal seperti : Pak
Lekik, Pak Slamet dan Wisnu HP dari generasi mudanya.
Bujang Ganong, meskipun secara fisik cenderung buruk rupa, tapi
mempunyai kualitas yang tinggi. Sakti dan mumpuni, loyalitas tanpa batas
namun lembut dan jenaka, terampil, serba bisa dan cerdas. Seorang abdi
dan perwira tinggi sekaligus pamong yang penuh dedikasi, rendah hati,
jujur, tulus tanpa pamrih.
Dari versi cerita yang lain, Bujang Ganong dipercaya adalah karakter
yang mewakili Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam–salah satu tokoh sakti
sekaligus cendikia Majapahit–yang menggunakan seni pertunjukkan reyog
sebagai media kritik terhadap raja Majapahit waktu itu, Brawijaya V Bre
Kertabumi. Gaya pemerintahan Bre Kertabumi yang seolah didikte oleh
permaisurinya, digambarkan dengan seekor burung merak yang bertengger di
kepala harimau. Ki Ageng Kutu dalam kritiknya–melalui seni pertunjukkan
reyog–membangun karakter Bujangganong dengan segala sifat-sifat
keperwiraan yang mengabdi demi tanah air. Melalui seni pertunjukkan
Reyog dan tokoh Bujangganong dengan segala kualitas yang dimilikinya, Ki
Ageng Kutu mencoba menyampaikan kebenaran dengan kesederhanaannya
sekaligus teladan dengan gerak dan rasa yang konkrit.
Hingga kemudian, Bujang Ganong bukan hanya sekedar sebuah tontonan
yang atraktif tapi keteladanannya mengandung tuntunan yang luhur, bahwa
kualitas seseorang tidak bisa di ukur dari penampilan fisik semata.
Kualitas karakter ini yang membuat Bujangganong memegang peranan penting
dan menjadi tokoh sentral dalam dramaturgi seni pertunjukkan Reyog Ponorogo.
Bujang Ganong dengan segala peran dan kualitasnya menawarkan sebuah
alternatif perenungan spiritual yang lembut namun dalam. Keteladanan
yang pantas diapresiasi, dilestarikan dan di jiwai. Sebuah kearifan
budaya lokal yang mencoba bertutur tentang filosofi dan makna kesejatian
hidup. Bujang Ganong telah tampil ke depan melompat jauh ke masa depan
melebihi jamannya. Ditengah hiruk pikuk cerita fiksi tokoh dan karakter
kepahlawanan asing, Bujangganong mencoba menerobos ke pusat jantung
modernitas yang cenderung absurd.
Source: Kotareog.com
Warok, mengenal lebih dekat sosok fenomenal dan kotroversial dalam tari reog
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
warok adalah salah satu penari dalam seni reog. Kadang ia diterjemahkan sebagai sosok yang dikenal sebagai seseorang yang "menguasai ilmu" (ngelmu) dalam pengertian Kejawen.
Ia juga sering berperan sebagai pemimpin lokal informal dengan banyak pengikut. Dalam pentas, sosok warok lebih terlihat sebagai pengawal/punggawa raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Dalam pentas, sosok warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan,
digambarkan berbadan gempal dengan bulu dada, kumis dan jambang lebat
serta mata yang tajam. Sementara warok tua digambarkan sebagai pelatih
atau pengawas warok muda yang digambarkan berbadan kurus, berjanggut
putih panjang, dan berjalan dengan bantuan tongkat.
Sosok warok tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kerajaan Majapahit abad
ke-15. Kala itu, Ki Ageng Kutu yang menjadi penguasa Wengker banyak
mendirikan padepokan yang mengajarkan ilmu kanuragan. Tujuannya tak lain
guna mencetak pemuda-pemuda sakti mandraguna.
Ketika Ki Ageng Kutu dikalahkan oleh utusan Majapahit, Raden Bathoro Katong yang kemudian hari menjadi Bupati pertama Ponorogo. Bekas murid-murid Ki Ageng Kutu yang telah menyerah dihimpun menjadi manggala (prajurit) negeri. Mereka didaulat untuk mempertahankan Ponorogo. Para manggala negeri ini kemudian disebut warok.
Sebutan warok berasal dari kata wewarah dalam bahasa jawa yang berarti mampu memberi tuntunan dan ajaran perihal kehidupan. Selain itu, warok juga dikenal memiliki sifat kesatria seperti berbudi luhur, jujur, bertanggung jawab, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, bekerja keras tanpa pamrih, adil dan tegas, dan tentu saja sakti mandraguna.
Ketika Ki Ageng Kutu dikalahkan oleh utusan Majapahit, Raden Bathoro Katong yang kemudian hari menjadi Bupati pertama Ponorogo. Bekas murid-murid Ki Ageng Kutu yang telah menyerah dihimpun menjadi manggala (prajurit) negeri. Mereka didaulat untuk mempertahankan Ponorogo. Para manggala negeri ini kemudian disebut warok.
Sebutan warok berasal dari kata wewarah dalam bahasa jawa yang berarti mampu memberi tuntunan dan ajaran perihal kehidupan. Selain itu, warok juga dikenal memiliki sifat kesatria seperti berbudi luhur, jujur, bertanggung jawab, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, bekerja keras tanpa pamrih, adil dan tegas, dan tentu saja sakti mandraguna.
Dalam berbagai kisah diungkapkan, seorang warok akan menjalani tapabrata untuk mencapai kesaktian. Bukan rahasia lagi, ketika sedang mencari kesaktian, seorang warok akan puasa perempuan, dan menuntaskan hasratnya kepada bocah laki-laki tampan yang sengaja dipeliharanya. Lelaki tampan inilah yang disebut gemblak.
Gemblak merupakan bocah laki-laki berusia antara 12-15 tahun. Mereka berparas tampan dan terawat. Bagi seorang warok, memelihara gemblak adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pun pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan juga terjadi praktik pinjam meminjam gemblak.
Biaya
yang dikeluarkan warok untuk memelihara seorang gemblak tidak murah.
Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai
keperluan sekolahnya di samping keperluan makan dan tempat tinggal.
Sedangkan bagi gemblak yang tidak bersekolah maka setiap tahun warok
memberinya seekor sapi.Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak pun turun-temurun dipercaya guna mempertahankan kesaktian. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok.
Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara warok dan gemblaknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.
Pada awalnya warok digambarkan sebagai sosok pengolah kanuragan
yang demi pencapaiannya ilmunya, tidak berhubungan dengan wanita,
melainkan dengan bocah lelaki berumur 8-15 tahun yang acapkali disebut gemblakan. Seringkali para warok juga mengonsumsi minuman keras. Namun saat ini warok telah mengalami perubahan paradigma.
Warok yang terkenal dengan kesaktiannya adalah warok suromenggolo
Berikut adalah salah satu video tarian warok:
source: Dari berbagai sumber
Reog Ponorogo, pengertian, sejarah dan budaya
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
1 komentar
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak,
dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah
salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan
hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit
akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan
di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan
diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini
akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar
bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan
politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong",
raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya
ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang
menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas
segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak
yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan
Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang
berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng
Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai
lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya . Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok.
Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.
Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk
dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara
masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan
karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja
Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di
tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan
Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak
Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok
(pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki
ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara
Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi
warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam
pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk
adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga.
Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang
awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka
menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.
berikut adalah beberapa video pementasan tari reog
Video dan Lirik Lagu Pramuka - Alam Bebas
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
Alam yang luas bebas karya tiada batas
Slalu sedia Dia bagi kita semua
Alam yang indah megah slalu sedia
Memberi ajarannya pandangan luas
Mari kita sekolah di sana
Agar dapat luaslah pandangan
Di sana kita kan belajar
berpandangan luas
Download Lagu Pramuka Kelana Rimba
Diposting oleh
Machmoud Rofi'ie
0
komentar
Di tengah-tengah hutan di bawah langit biru
Tenda terpancang ditiup sang bayu
Api menjilat-jilat terangi rimba raya
Membawa kelana dalam impian
Dengarlah-dengarlah sayup-sayup
Suara nan merdu memecah malam
Jauhlah dari kampung turuti kata hati
Guna bakti pada bunda pertiwi
unutk download klik Di sini
salam pramuka!
Langganan:
Postingan (Atom)















